Tampilkan postingan dengan label SALES DAN MARKETING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SALES DAN MARKETING. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2009

TIPE TIPE PELANGGAN



Seorang sales harus tahu tipe pelanggan yang akan dihapinya, sehingga akan mempermudah teknik pendekatan yang akan dilakukannya berdasarkan tipe tipe pelanggan tersebut, ada beberpa tipe pelanggan berdasarkan beberapa ahli yang dapat dijadikan referensi;

NLP (Neuro-Linguistic Programming):
NLP (Neuro-Linguistic Programming) diprakarsai oleh seorang computer programming yang bernama Dr. Richard Bandler dan seorang profesor linguistik yang bernama Dr. John Grinder. Mereka berdua mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang teramat sukses dibidangnya. Metode yang dipergunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut sebagai modelling (ilmu memodel). Setelah bertahun-tahun memodel, mereka berdua berhasil mengembangkan seperangkat teknik mental yang sangat berguna dalam dunia terapi. Dalam perkembangannya, NLP dipopulerkan oleh Anthony Robbins hingga meluas di USA dan seluruh dunia. Salah satu teori yang dikembangkan oleh NLP adalah penggolongan tipe manusia, NLP menggolongkan tipe manusia menjadi 3 golongan, yaitu:

Visual
Orang-orang yang bertipe visual adalah orang-orang yang menyukai dari apa yang tampak oleh indera penglihatan. Orang yang bertipe visual ini tampak menonjol bila dilihat dari penampilan mereka, mereka biasanya berpakaian rapi dan necis. Dalam berbicara mereka akan menggunakan kata-kata yang menonjolkan indera penglihatan. Misalnya: “Ketika dia melihat masa depannya, tidak jelas”, “Saya tidak dapat melihat kata-katanya dalam pikiran saya”, “Bapak pasti dapat melihat berbagai kemudahan maupun kualitasnya”. Bila ingin menjual produk pada pelanggan yang bertipe visual maka dalam presentasi pergunakanlah gambar-gambar dan warna-warna yang menarik.


Auditory
Orang-orang yang bertipe auditory adalah orang-orang yang menyukai sesuatu dari apa yang mereka dengar. Waktu belajar mereka membaca buku yang dibacanya dengan keras agar dapat lebih mudah untuk memahami apa yang mereka pelajari. Dalam berbicara mereka biasanya akan menggunakan kata-kata yang menonjolkan indera pendengaran. Misalnya: “Dia tidak bisa mendengarkan masa depannya”, “Saya tidak dapat mendengar kata-katanya dengan baik”, “Sudah banyak yang mengatakan bahwa produk kami memberikan kepuasan dalam memakainya”. Gunakan musik atau sesuatu yang menonjolkan suara-suara yang merdu dalam presentasi pada pelanggan yang bertipe ini, tekankan katan-kata yang ingin ditonjolkan.


Kinesthetic
Orang-orang yang bertipe kinesthetic adalah orang-orang yang menyukai sesuatu dari apa yang dirasakan. Dalam berbicara biasanya mereka akan mengucapkan kata-kata seperti berikut: “Dia tidak bisa bisa merasakan apa yang akan terjadi”, “Saya tidak merasakan apa yang dikatakannya”, “Bapak pasti akan merasakan manfaatnya”. Untuk menjual produk pada pelanggan yang bertipe ini, ajaklah agar mereka merasakan sesuatu yang mereka dapatkan atau keuntungan apa yang dirasakan bila membeli produk yang ditawarkan.



Tony Alessandra dan Michael J. O’Connor:
Dalam bukunya yang berjudul People Smarts, Tony Alessandra dan Michael J. O’Connor menggolongkan tipe manusia menjadi:

Tipe direktur

Orang yang bertipe direktur memiliki kebutuhan batin untuk memimpin dan memegang pengendalian pribadi, menguasai orang lain dan situasi. Mereka ingin mencapai tujuan sendiri karena kebutuhan utama mereka adalah mencapai tujuan. Komponen direktur yang kurang positif adalah keras kepala, tidak sabar dan sikap keras. Direktur memproses data secara konseptual dengan menggunakan pertimbangan deduktif – dari informasi umum ke spesifik. Mereka lebih nyaman menggunakan otak bagian kiri dibandingan dengan otak bagian kanan. Direktur ingin mengetahui lini dasarnya, mereka tidak ingin membuang-buang waktu, beri mereka informasi yang cukup mengenai produk yang dijual, bicarakan langsung ke tujuan. Sarankan pemecahan dengan konsekuensi yang didefinisikan dengan jelas dan disepakati disamping imbalan yang berhubungan secara spesifik dengan tujuan mereka.

Ahli pergaulan

Ahli pergaulan yang mudah bergaul dan bersifat terbuka suka pergi ketempat adanya tindakan. Secara khas, mereka dari luar tampak penuh semangat atau punya langkah cepat, dan berhubungan cenderung secara alami mengambil prioritas diatas tugas. Ahli pergaulan berusaha mempengaruhi orang lain dengan cara yang optimistis dan terfokus pada hasil positif, apakah di lingkungan kerja atau sosial. Ahli pergaulan menginginkan kekaguman dari orang lain. Kekuatan utama ahli pergaulan adalah antusias mereka, disamping kemampuan membujuk dan keramahan mereka. Kelemahan alami ahli pergaulan termasuk suka terlalu banyak terlibat, tidak sabar, takut sendirian, dan punya rentang perhatian yang pendek. Semua kelemahan ini menyebabkan mereka jadi mudah bosan. Dalam menjual produk pada ahli pergaulan, si penjual harus menjadi pendengar yang penuh rasa empati. Berikan umpan balik yang positif dan biarkan mereka tahu bahwa si pendengar memahaminya dan bisa menghubungkannya dengan apa yang mereka rasakan. Gunakan kata-kata perasaan, jangan kata-kata pikiran. Berikan ilustrasi dengan kisah-kisah dan kesaksian-kesaksian yang menghubungkan pada emosional mereka pada tujuan dan kepentingan mereka sendiri.

Ahli hubungan

Orang yang betipe ahli hubungan menginginkan rasa hormat. Mereka berfokus pada pembinaan kepercayaan dan mendapat kenalan karena mereka mengincar hubungan pribadi jangka panjang. Perilaku yang suka mendesak dan agresif mengesalkan mereka. Ahli hubungan berjuang untuk memperoleh keamanan. Ahli hubungan secara alami mudah bergaul dan merupakan tipe yang mudah diajak berhubungan secara rukun. Ahli hubungan cenderung suka merencanakan dan mengambil tindak lanjut sampai tuntas. Walaupun demikian, mereka mempunyai kesulitannya sendiri yang unik dengan bicara untuk mengutarakan sesuatu, mereka cenderung mengikuti orang lain dan keadaan walaupun dalam hati tidak setuju. Ahli hubungan ingin memelihara kestabilan, jadi mereka ingin mengetahui prosedur selangkah demi selangkah yang memenuhi kebutuhan mereka akan perincian dan tindakan sampai tuntas yang logis. Jadi dalam presentasi menjual produk, si penjual harus membuat daftar hal-hal spesifik, tunjukkan urutannya, dan berikan data. Bila mungkin, buatlah garis besar proposal. Penuhi kebutuhan mereka untuk mengetahui fakta, tetapi juga dapatkan perasaan pribadi dan emosi mereka dengan meminta masukan mereka. Buatlah mereka ikut terlibat dengan berfokus pada unsur manusiawi, yaitu bagaimana sesuatu mempengaruhi mereka dan hubungan mereka dengan orang lain. Hindari membuat mereka terburu-buru dan beri mereka kepastian pribadi dan kongkrit, kalau keadaan memungkinkan.

Tipe pemikir

Tipe pemikir lebih banyak memperhatikan kepuasan diri mereka daripada ucapan selamat. Mereka memilih keterlibatan dengan produk dan jasa dibawah keadaan yang spesifik, lebih suka lagi yang terkendali, sehingga proses dan hasil bisa benar. Karena kepentingan mereka adalah ketepatan, emosi manusia mungkin dinomor duakan oleh mereka. Kekuatan pemikir adalah ketepatan, bisa diandalkan, kemandirian, kejelasan dan keahlian menguji, mampu melakukan tindak lanjut sampai tuntas, dan keteraturan. Mereka sering berfokus pada harapan dan hasil. Mereka ingin tahu bagaimana segala hal bekerja sehingga mereka bisa mengevaluasi bagaimana cara berfungsinya yang benar. Untuk menjual pada tipe pemikir, si penjual harus mempersiapkan dirinya dengan benar agar bisa menjawab banyak pertanyaan dari tipe pemikir. Hindari pertemuan dengan obrolan pribadi atau sosial. Dokumentasikan “bagaimana” dan “mengapa” sesuatu bisa diterapkan. Beri mereka waktu untuk berpikir, hindari tindakan mendesak mereka mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Jelaskan segi pro dan kontranya dan berikan cerita yang lengkap.

James Gwee:

Dalam seminarnya, James Gwee menggolongkan tipe manusia menjadi:

Tipe penggerak

Tipe penggerak adalah seorang yang lincah dan suka tersenyum, dia sangat mengutamakan kehangatan dalam berhubungan, dan suka basa-basi terlebih dahulu sebelum masuk dalam topik. Tipe penggerak adalah seorang yang praktis dan over optimis, dia sering merasa sanggup menyelesaikan tugasnya tepat waktu padahal tidak. Mereka membuat keputusan lebih kearah perasaan daripada logika, jadi kalau ingin menjual produk pada pelanggan tipe ini buatlah mereka segembira mungkin sebelum menawarkan produk. Mereka mengutamakan kehangatan, jadi pada saat bertemu dengan pelanggan tipe ini berbasa-basilah terlebih dahulu, jangan langsung menawarkan produk yang ingin dijual. Dan jangan buat presentasi yang detail, karena tipe ini tidak suka yang detail-detail.

Tipe peresah

Tipe peresah kebutuhan dasarnya adalah rasa aman. Ketika berbicara, tipe peresah selalu mengeluh mengenai keadaan dirinya sendiri, mereka selalu melihat dirinya secara negatif. Bila menghadapi pelanggan tipe ini jangan menggunakan nada yang ceria dan jangan sekali-kali mengecilkan masalah mereka. Pada tipe yang lain, penjual biasanya selalu menawarkan produk mereka dengan melebihkan-lebihkan atau mengunggul-unggulkan produk yang mereka jual, tapi pada tipe peresah, penjual harus bilang bahwa produk mereka ada kekurangannya, karena orang yang bertipe peresah tidak pernah percaya kalau ada produk yang sempurna. Tipe peresah membuat keputusan bukan pada produk mana yang paling bagus tapi keputusannya berdasarkan pada produk mana yang kekurangannya paling sedikit. Jangan terlalu banyak menyuruh tipe ini membuat keputusan, tapi cobalah untuk mengarahkan dalam memilih. Jadi dengan kata lain, pada pelanggan tipe ini, si penjual harus mengarahkan, meyakinkan dan menenangkan pelanggan.

Tipe politikus

Tipe politikus selalu merasa benar sendiri dan orang lain selalu salah. Suasana ruangan tipe politikus tidak hangat, di dinding kantornya penuh dengan ijasah dan foto-foto dengan pejabat. Mereka power crazy jadi dalam berbicara dengan mereka harus tinggikan egonya, puji-puji mereka. Dalam menulis proposal, isi proposal tidak perlu menggunakan font yang besar, cukup font yang biasa-biasa saja, tapi yang harus diingat bahwa pada bagian nama dan gelarnya, jangan lupa memperbesar font-nya agar kelihatan lebih menonjol. Berbicara dengan tipe ini harus dengan nada kagum, karena mereka menyukai kekaguman dari orang lain.

Tipe seniman

Tipe seniman kebutuhan dasarnya adalah ingin menciptakan sesuatu dan selalu menghargai sesuatu yang kreatif dan inovatif. Pakaian tipe ini selalu rapi dan bersih walaupun seharian berada di lapangan. Tipe seniman memiliki sifat introvert, dia sangat menjaga privasi dan tidak pernah menanyakan sesuatu yang pribadi pada orang lain, maka jangan sekali-kali menanyakan hal pribadi pada mereka. Tipe seniman biasanya dalam berpikir tidak dilontarkan tapi berbicara sendiri dalam hatinya, jadi jangan menginterupsi dengan menanyakan sesuatu pada saat mereka sedang berpikir. Pada proposal, buatlah proposal yang berwarna-warni, jangan banyak kata-kata tapi perbanyak gambar, lebih tonjolkan sisi kreatif dan inovatif dari produk, kemasan dan service.

Tipe insinyur

Tipe insinyur adalah seseorang yang ingin menyelesaikan masalah. Mereka sangat rinci. Tipe insinyur sangat teratur, segalanya direncanakan matang-matang, jadi jangan sekali-kali menemui mereka tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu. Dalam menjual, penjual harus mempunyai pengetahuan yang berbobot dalam produk yang ingin dijual, membuat pernyataan pada mereka harus didukung dengan bukti dan fakta. Bila perlu, ajaklah technical support bila ingin menjual produk pada orang yang bertipe ini, karena bila kita tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang detail maka percuma saja menjual dengan orang yang bertipe ini.

Tipe penggiat

Tipe penggiat selalu mengutamakan sukses secara materi. Mereka suka memakai barang-barang yang aspal, yang murah-murah, tapi mereka tidak malu untuk memakainya. Mereka suka barang yang mirip yang asli, tidak mengutamakan kualitas, tapi yang terpenting adalah harga yang murah. Menghadapi orang yang bertipe ini, penjual harus menonjolkan harga yang murah atau discount yang besar atau besarnya komisi yang didapat bila menjual produk yang ditawarkan.

Tipe normal

Tipe normal adalah orang-orang yang ingin diterima oleh masyarakat sehingga mereka selalu menyesuaikan diri supaya tidak tampil menyolok. Orang yang bertipe normal seperti bunglon, selalu merubah gayanya sesuai dengan lingkungan. Jadi kalau ingin menjual produk pada pelanggan yang bertipe ini selalu bandingkan dengan orang-orang umumnya. Misalnya: “Kebanyakan orang-orang memakai produk seperti ini”, dll.

Teori-teori diatas memiliki keunikannya sendiri-sendiri, tidak ada yang lebih unggul, tidak ada yang lebih bagus satu dari yang lainnya. Tinggal memilih teori mana yang lebih sreg untuk dipakai.

Selamat berjualan… :

Baca Selengkapnya...

Senin, 22 Juni 2009

MENCEGAH MANIPULASI SALES FORCE


Bagi Kita yang menggeluti dunia penjualan maka kejadian adanya Salesman yang melakukan manipulasi sudah sering Kita alami, pertanyaannya adalah kenapa mereka tergoda untuk melakukan manipulasi ? mari kita coba mendata hal – hal apa saja yang mempengaruhi Salesman melakukan manipulasi, mulai dari apakah gaji kekecilan, hingga kurangnya kontrol atasan terhadap kinerja Salesmannya.

Kita sering mendengar bahwa setiap manusia memiliki 3 (tiga) unsur yang dapat membuat manusia itu Sukses atau Gagal, yaitu :

Attitude : Merupakan modal utama setiap orang yang sangat berpengaruh terhadap keputusan untuk memilih jalan hidupnya

Knowledge : Merupakan panduan setiap orang untuk mengetahui dengan pasti kenapa harus memilih jalan hidup yang ini kok bukan yang itu

Skill : Merupakan ketrampilan yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang untuk mengelola kehidupannya sehingga ia sanggup mengatasi setiap kendala yang ditemui

Ketiga hal tersebut ibaratnya sebuah pisau dapur apakah akan digunakan untuk memasak atau untuk membunuh, sehingga kita harus mampu mengendalikan personil yang secara alamiah telah memiliki ketiganya.

Banyak cara untuk mengendalikan Attitude, Skill & Knowledge (ASK) antara lain :

1.Job Specification,
Jangan sampai kita membeli kucing dalam karung, untuk itu sebelum dilakukan rekruitmen kita harus sudah mempunyai kriteria calon karyawan yang diinginkan versus pekerjaan yang akan menjadi tanggungjawabnya. Dengan demikian proses rekruitmen harus dilakukan dengan sangat hati – hati sehingga mulai dari interview, pengecekan referensi kerja ditempat sebelumnya dan psikotest ditempat yang memahami apa yang diinginkan oleh perusahaan.

2.Training & Coaching,
hal ini diperlukan untuk memudahkan personil dalam memisahkan do vs don’t sehingga pedoman paradigma yang dipilih tidak salah alias sesuai dengan harapan dan menghasilkan kinerja yang dapat diandalkan. Namun perlu dicermati bahwa Training & Coaching saja tidak cukup untuk menjamin ASK diterapkan secara positif, karena banyak dari kita berpikir bahwa dengan training & Coaching maka segala urusan menjadi beres. Training & Coaching yang Paling baik adalah yang diterapkan dalam menjalankan pekerjaan sehari – hari.

3.Probation Period,
Kita belum punya pengalaman tentang Salesman yang kita rekrut makanya diperlukan adanya masa percobaan jabatan, dalam periode tersebut kita harus memiliki Key Performance Indicator sesuai dengan target – target yang telah disepakati bersama antara pihak Salesman dengan manajemen perusahaan, sehingga pada saat Salesman dinyatakan lulus atau tidak lulus masa percobaan kedua belah pihak sama – sama berpedoman kepada tolok ukur yang sama, tidak perlu membuang waktu dengan memperdebatkan ketidakjelasan penilaian.

4.Evaluation & Analysist,
Secara periodik kinerja Salesman harus diukur dengan teliti, hal ini diperlukan untuk menjaga konsistensi performance Salesman tersebut, hasil dari Evaluasi dan analisa kinerja harus dikomunikasikan kepada Salesman yang bersangkutan, sehingga ia menjadi paham point mana saja yang harus menjadi fokus untuk segera ia perbaiki guna mempertahankan dan meningkatkan performancenya.

5.Strictly Control,
Pengawasan dengan kadar yang sangat ketat harus mampu dilakukan oleh atasan yang membawahi Salesman, caranya antara lain menjadwalkan kunjungan rutin ke seluruh pelanggan untuk menggali lebih dalam apakah yang dikerjakan Salesman sudah sesuai dengan standart prosedur kerja salesman.

6.Consistently Reminder,
Daya tahan Salesman mengingat apa yang telah diinstruksikan tidak lebih dari 8 jam, untuk itu kita harus selalu mengingatkan mereka minimal 2 (Dua) kali dalam sehari yaitu pagi hari sebelum mereka berangkat dan sore hari pada saat mereka akan kembali ke rumah, materi yang harus diingatkan kepada mereka antara lain target – target yang harus dicapai, program promosi yang harus dipresentasikan kepada pelanggan, mencatat keluhan pelanggan atas pelayanan yang diberikan, komitmen pencapaian target – target dan analisanya jika tidak terealisasi sesuai dengan estimasi.

7.Reward & Punishment,
Kita harus berani membudayakan kebiasaan Reward & Punishment, artinya segala tindakan pasti ada konsekuensinya, jika Salesman berprestasi maka ia akan diganjar dengan kenaikan salary atau promosi jabatan atau reward dalam bentuk lain namun sebaliknya jika tidak berprestasi akan dihadiahi dengan mutasi atau punishment lainnya.

8.AR (account Receivable) Control
Hal ini sangat penting untuk diikuti, karena lengah sedikit akan mudah diselewengkan,. untuk mengontrolnya paling tidak mulai dari credit limit, dan TOP (term of payment) yang sesuai aturan main, dan yang penting untuk piutang yang sehat overdue tidak boleh lebih dari 10% jadi jika ada indikasi overdue lebih dari 10% harus segera dilakukan check dan pengetatan piutang, sebelum manipulasi data semakin parah.

Kedelapan hal diatas tidak akan berarti apa – apa bila tidak dilakukan dengan konsistensi tinggi sebab Salesman akan dengan mudah membaca pola manajemen kapan saat manajemen lengah dan Salesman dapat memanfaatkan kesempatan untuk melakukan manipulasi, selain itu manajemen juga dituntut selalu mengasah diri agar menjadi semakin tajam. Selamat mengerjakan !!!!

Baca Selengkapnya...

Rabu, 03 Juni 2009

HUKUM KEHILANGAN PELANGGAN


Tugas Salesman adalah menjual, bukan menghafalkan banyak teori ekonomi. Meskipun begitu, dalam ilmu ekonomi ada satu “ hukum “ yang berhubungan langsung dengan penghasilannya dan yang seharusnya betul-betul ia ketahui, yaitu “ Hukum Kemerosotan Langganan “. (Tidak hanya salesman tetapi semua orang sales harus tahu!)

Yang artinya hanya begini : langganan yang sama tidak akan tetap berada di dalam register outlet bertahun-tahun lamanya. Kemerosotan atau kehilangan langganan yang tak dapat terelakkan lagi tentu selalu terjadi. Terjadinya pun secara terus-menerus, dan dalam sebuah perusahaan rata-rata kemerosotan langganan dalam tahun tertentu mungkin mengakibatkan penjual secara individu kehilangan semua langganannya – bahkan mungkin sama sekali tidak kehilangan langganan.

Maka dari itu, apa yang harus diingat oleh setiap penjual adalah bahwa kemerosotan atau kehilangan langganan ini akan terjadi tidak perduli ia produsen yang top atau produsen yang paling rendah, dan tidak perduli ia menyukai atau tidak menyukai. Oleh karenanya, setiap penjual juga harus menyadari waktu untuk mengganti langganan yang hilang sebelum langganan tersebut hilang.
Penjual yang bijaksana berusaha mencari langganan-langganan baru hari ini, tidak perduli bagaimana sesuatunya berjalan hari ini, untuk mengganti langganan-langganan yang pasti akan meninggalkannya entah besok, bulan mendatang atau tahun mendatang. Jika ia tidak melakukan hal itu, ia berarti melakukan salah satu kesalahan terbesar dan paling umum – yang bisa dilakukan oleh seorang penjual.

Berhubung kerap kali diperlukan kerja keras berbulan-bulan untuk membuat seorang calon pembeli menjadi langganannya yang tetap, maka hari ini tidak akan terlalu pagi untuk memikirkan langganan-langganan pengganti yang pasti diperlukan di masa yang akan datang.

Marilah kita melihat secara lebih dekat mengenai masalah kemerosotan langganan ini untuk melihat beberapa alasan utamanya :

• Pembeli yang mau menerima atau agen pembeli naik pangkat, pensiun, atau pindah ke lain perusahaan, dan diganti oleh orang yang lebih suka memilih sendiri pensuplainya.
• Perusahaan yang berlangganan itu mati usahanya.
• Perusahaan itu berkembang dan berubah menjadi sebuah perusahaan yang telah memiliki sumber pensuplai-pensuplai sendiri.
• Perusahaan itu membeli sebuah cabang perusahaan yang memproduksi produk yang dahulu dibeli dari luar.
• Perusahaan itu mengganti cabang produksinya, dan barang-barang yang diperlukan sepenuhnya baru, lain dari sebelumnya.
• Demi perubahan, seorang pimpinan perusahaan minta supaya diadakan perubahan, dan dalam waktu singkat pensuplai-pensuplai yang telah ada dilepas semua.

Apa pun alasan atau alasan-alasan yang ada pada suatu situasi tertentu, Mr. Salesman tetap akan mengalami kehilangan yang mungkin menyangkut volume besar dari bisnisnya.

Nah, sudah banyak penjual yang betul-betul mengakui adanya kemungkinan-kemungkinan yang muncul kapan saja seperti halnya hilangnya langganan. Akan tetapi sering kali atau bahkan boleh dikatakan terlalu sering, penjual-penjual jatuh ke dalam perangkap. Mereka berusaha terlalu keras mempererat tali persaudaraan dengan langganan-langganan lama mereka dan berharap “ hukum “ kemerosotan langganan tidak terjadi pada diri mereka.

Hal ini bagus, namun ada satu kejelekannya. Perlu diketahui bahwa hilangnya langganan karena alasan-alasan tersebut diatas adalah tak terelakan lagi. Itu jauh di luar kekuasaan penjual. Jadi pikirkan dan lakukanlah penambahan pelanggan (NOO) terus menerus, karena kalau tidak anda semakin kehilangan penjualan !!!! Ready to GO temans………..Get your Customer Now .

Baca Selengkapnya...

Selasa, 02 Juni 2009

MENINGKATKAN KINERJA AREA/CABANG



Seorang pimpinan wilayah/area penjualan sedang dibuat pusing dengan penjualan yang terus menerus turun di bulan bulan belakangan ini.
Dia ingin tahu apa sebab yang mengakibatkan terjadinya penjualan yang merosot drastis,apakah ini juga akibat dari Kredit Perumahan di Amerika Sono yang mengalami kemacetan sehingga dampak resesi global mulai nyata di depan mata dan berdampak di wilayahnya, atau kondisi musim yang tidak bersahabat akibat global warming (katanya), atau situasi lain yang belum terdeteksi ?.
Dalam kondisi tekanan yang begitu besar, Dia berusaha membuka buka halaman Koran, membuka internet(yang jelas pasti bukan FB) untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi, PAD serta APBD di Wilayah daerahnya , yang mungkin suatu saat bisa dijadikan alasan untuk para Bosnya bila di tanya suatu saat.
Dari penulusuran tersebut, semua berjalan normal normal saja dan jika dibandingkan dengan produk kompetitor sejenis mereka cenderung tumbuh, itulah yang membikin Dia tambah bingung, berarti market share saya kemakan nih (pikirnya). Lalu membuka data penjualan di wilayah lain yang mungkin tergolong wilayah kurang potensi dibanding wilayahnya, alangkah terkejutnya ternyata wilayah lain penjualan melaju dengan pesat dengan tingkat pertumbuhan tinggi dan yang pasti penjualan sudah melebihi separuh penjualan di wilayahnya.
Sejarah penjualan menunjukan bahwa dari dulu sebenarnya total penjualan di wilayah yang sekarang di pegangnya adalah 40%-50% dari total penjualan Regional (propinsi), bahkan untuk Perusahaan lain bisa lebih tinggi dari angka tersebut.
Apa yang salah dengan kejadian ini, dia berfikir, dan berfikir terus untuk memecahkan persoalan yang rumit bahkan persoalan ini adalah menyangkut Hajat Hidup karyawan di wilayahnya.
Kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi di tempat kerja kita dan bahkan mungkin sudah terjadi.
Tindakan apa yang akan dilakukan seorang pimpinan/manager wilayah penjualan melihat hal ini terjadi .

Analisa Permasalahan

Analisa permasalahan harus dilakukan secara menyeluruh dan bersifat holistic (keterkaitan) meliputi :

- Struktur Organisasi
Apakah dalam organisasinya memungkinkan seorang kepala bagian/supervisor menjadi Raja Kecil yang tidak mau tunduk terhadap aturan main Wilayah atau bahkan Nasional yang pada akhirnya justru sangat kontra produktif.
- Budaya Organisasi
Apakah budaya organisasi menjadikan orang orang hanya peduli dengan pekerjaannya saja dan tidak peduli akan nasib Perusahaannya (sense of belonging)
- Sumber Daya Manusia.
Apakah Sumber Daya yang ada memenuhi Kwalifikasi menjadi Karyawan yang Profesional
Yang perlu di ketahui Seorang Profesional bukan seorang yang Workaholic namun seorang yang bekerja penuh dengan perhitungan,efisien,efektif,penuh ide,tuntas berorientasi pada PROSES dan HASIL sekaligus.
- Standart Operasional Procedure (SOP)
Apakah Standart operasional procedure sudah ditata mengikuti garis kebijaksanaan Perusahaan dengan memperhatikan kemampuan SDM yang ada.
Apakah para kepala bagian atau supervisor lapangan mampu menterjemahkan SOP ini dengan bahasa yang awam (umum) yang akhirnya bisa di terapkan di sub ordinatnya dengan simple,mudah dan tidak kaku.
Dan apakah juga kepala wilayah/cabang ini mampu memberikan guidance serta menjadikan SOP ini adalah menjadi Nadi bagi keseluruhan Proses di wilayahnya.
- Kebijakan Perusahaan
Apakah kebijakan perusahaan secara Nasional mempengaruhi wilayahnya sehingga menyulitkan Pemimpin wilayah/cabang untuk mengambil tindakan.

Action/Tindakan

Apabila sebagai Kepala wilayah/cabang telah menganalisa permasalahan yang terjadi maka sudah waktunya sebelum terlambat untuk melakukan tindakan (action).

Bila menyangkut masalah organisasi dimana para kepala bagian/supervisor bekerja sendiri sendiri dan sangat kontra produktif terhadap wilayah maka langkah yang diambil adalah :

- Ajak diskusi para kepala bagian untuk ikut membantu Wilayah/cabang agar Goal(tujuan)
tercapai dimana kepala bagian/supervisor diharuskan untuk tidak bekerja sendiri sendiri di area kerjanya .
Berikan mereka gambaran mengenai bisnis di wilayah/cabang kerja apabila bekerja dengan cara mereka sendiri dan tidak berfikir wilayah/cabang maka lambat laun akan mengalami kemunduran.
Berikan tenggat waktu untuk melakukan perubahan, sebab seperti yang kita ketahui merubah paradigma adalah suatu pekerjaan yang sangat sulit butuh waktu dan tenaga ekstra.
- Apabila cara pertama tidak mempan maka sudah selayaknya melakuan Reorganisasi dengan cara radikal dimana Kepala Bagian/supervisor yang tidak kooperatif langsung diganti dengan yang kooperatif.
Kooperatif disini bukan berarti yesman namun mereka yang memberikan kontribusi, kadang ada kepala bagian/supervisor yang kritis namun selama yang bersangkutan memberikan kontribusi yang positif justru yang seperti ini yang diperlukan.

Budaya Kompetisi diantara Karyawan memang membuat suatu organisasi menjadi dinamis namun kadang justru membuat organisasi kurang produktif.
Contohnya dalam penyusunan budget sales.
Apabila dalam penyusunan budget itu para kepala wilayah/cabang benar benar mengetahui bisnisnya dimana yang bersangkutan memiliki data base penjualan yang akurat,memahami dinamika bisnis yang baik,memiliki intuisi bisnis yang andal maka sudah barang tentu tidak menjadi masalah.
Celakanya para kepala wilayah hanya bersandar pada history Man to Man maka yang terjadi adalah data yang bias.
Misalnya saja salesman A bekerja di area 1 dengan history sales average 50 juta/tahun sementara seiring waktu wilayah kerja salesman A telah tumbuh menjadi area pertumbuhan industri dan perumahan yang sangat pesat, dengan demikian sudah barang tentu cara penyusunan budget tidak bisa bersandar pada History namun lebih kepada History + Kesempatan Pasar.
Akan celaka kalau kita memberikan Budget misalnya hanya Average Sales ditambah angka pertumbuhan ekonomi secara nasional,maka yang terjadi adalah begitu Omset yang telah di perolehnya masuk 100% maka sisa Surat Pesanan barang masuk laci untuk bulan berikutnya,atau mungkin sang salesman tidak melakukan kunjungan kerja ke areanya dengan seribu alasan.
Jikalau Omset wilayah baik baik saja mungkin tidak menjadi masalah namun apabila sedang dalam masa kritis hal ini sungguh sangat membahayakan bagi team.
Apabila mendapatkan persoalan menyangkut budaya kompetisi yang tidak produktif maka yang harus dilakukan seorang kepala wilayah/cabang adalah :

- Merubah budaya kompetisi menjadi budaya kekeluargaan,ajaklah para kepala bagian/supervisor dan salesman duduk bersama untuk memikirkan jalan keluar dari persoalan ini.
- Rubahlah cara menyusun budget dari per individu menjadi budget team wilayah,bukan team supervisor.
- Budget disusun berdasarkan kesempatan ,tidak hanya berdasar history saja
- Untuk itu setiap salesman diberikan lembar kerja yang fungsinya untuk memetakan kemampuan sales di areanya,sehingga tersusunlah rencana (Plan) omset mereka masing masing (bisa mengacu pada artikel sebelumnya cara membuat target).

Persoalan Sumber Daya Manusia biasanya menjadi persoalan Klasik yang menjadi pembenar atau alasan ketidak mampuan team dalam menyikapi perubahan, padahal yang sebenarnya terjadi adalah ketidak mampuan kita dalam melakukan Rekrutmen,melatih dan mengembangkan orang.
Sialnya kita sudah kadung memiliki SDM peninggalan masa lalu yang memakai paradigma lama dalam berfikir bertindak dan bekerja, mustikah kita berpangku tangan menyesali keadaan.
Jawabnya tentu tidak, langkah berani harus diambil untuk menyikapinya dimana Kantor pusat harus memberikan dukungan yang penuh.

- Ajaklah para supervisor dan salesman untuk membicarakan masalah ini,biasanya yang menjadi permasalahan bukan masalah teknis namun lebih pada attitude/Sikap mental mereka dalam bekerja.
- Berikan mereka pelatihan yang intensif kontinyu serta berkesinambungan untuk mengembangkan diri.serta reward yang layak.
- Ajaklah mereka untuk membuat komitmen komitmen Pribadi dan mematuhinya.
- Bila memang sudah susah sekali di atur berikan mereka hak hak yang pantas agar tidak menjadi permasalahan ketenagakerjaan bila memang harus terjadi pemutusan hubungan kerja
Namun cara ini hendaknya dilakukan untuk yang terakhir kali bila upaya upaya perbaikan tidak bisa di lakukan.

Standart Operasional Procedure disusun agar langkah kita dalam dalam bekerja menjadi lebih terarah,teratur,termonitor,serta terukur.
Namun yang terjadi SOP bukan seperti yang diharapkan namun lebih sekedar rutinitas belaka, SOP bukan menjadi urat nadi proses bekerja namun menjadi kertas kertas sampah yang tidak berguna.
Hal ini dimungkinkan karena SOP tidak simple, bertele tele, kaku, serta tidak mudah di implementasi.
Bila yang terjadi seperti itu maka yang wajib di lakukan adalah :

- Ajak para kepala bagian/supervisor dan salesman untuk belajar menyikapi SOP
- Berikan Guidence SOP itu agar mudah di cerna oleh all team, terjemahkan dalam bahasa yang awam hingga mudah di implementasi.
- Bila perlu Pergunakan perangkat teknologi informasi agar mudah di kerjakan dengan cepat dan akurat.
- Berikan Reward yang memadai bila ada anggota team yang telah melaksanakan SOP dengan baik

Kepala wilayah/cabang diharapkan mampu menjadi negoisator yang andal dalam rangka menyikapi Kebijakan Perusahaan.
Kepala wilayah/cabang harus mampu meyakinkan kepada Kantor pusat apabila ingin membuat Project Project khusus didaerahnya dalam rangka melakukan development wilayah supaya bisa berkembang, tidak menunggu namun menjemput bola.

Ide ide segar inovasi inovasi baru serta di timpali eksekusi yang cantik harus tetap di gulirkan apabila ingin tetap di perhatikan oleh perusahaan.
Berikan masukan yang positif ke Kantor pusat agar dapat diambil kebijakan yang memihak pada semua pihak dilingkungan perusahaan.

Pada Akhirnya Leadership yang andal, didukung organisasi yang solid dengan budaya peduli terhadap “Goal Team”, dimana dalam organisasi tersebut penuh dengan sumber sumber daya kreatif dengan attitude yang baik serta mendapat dukungan penuh dari Perusahaan akan menciptakan sebuah hasil yang indah. Alangkah indahnya jika Target tiap bulan bisa tercapai...!!!!!

Baca Selengkapnya...

Minggu, 31 Mei 2009

BAGAIMANA MEMBIKIN TARGET YANG JELAS DAN TERUKUR


Sesuatu yang rutin dalam dunia sales adalah pencapaian target, dan yang sering terjadi adalah pencapaian target yang dibawah komitmen terhadap manajemen, yang menjadi pertanyaan salahnya dimana? Yang terjadi kalau Kita tanyakan kepada rekan rekan yang bekerja dilapangan alasannya macam macam, yang hujanlah, libur sekolah, kompetitor menurunkan harga dsbnya, kalau diteruskan bisa seribu macam alasan keluar dan intinya sama mereka bagaikan peramal top seperti di TV, atau ahli ekonomi yang menulis dikoran-koran luar biasa ahlinya.... Tapi Kita kadang lupa apakah dalam membuat target sudah benar ? karena semua tentu dimulai dari sini, artinya orang sales bekerja pasti dimulai dari sini, jadi ngga mungkin kita kerja ngga ada targetnya, artinya kalau dalam membuat target sudah salah atau ngawur pasti akan sulit untuk direalisasikan oleh team. Banyak diantara teman-teman supervisor/Medrep/SalesRep/Sales Eksekutif tidak mampu membuat Breakdown target yang jelas terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Mereka lebih berdasarkan pada pencapaian history dari pada melihat kesempatan pasar dan potensi pasar.
Maka apabila ditanya oleh Manager/atasan Penjualannya jawabannya kira kira begini ” Saya usahakan bulan ini masuk 100% Bos” dan setelah itu yang terjadi adalah dia berfikir ”Aduh bisa enggak ya ” Lebih kacaunya lagi sang Manager/atasannya percaya begitu saja dan pada akhirnya pada akhir bulan terjadilah akrobat sales yang maha dahsyat(sulit dipertanggung jawabkan).

Sebenarnya hal ini sah sah saja manakala memang situasi pasar benar benar berubah, artinya musuh yaang sulit diprediksi dipasar adalah situasi bukan kompetitor, kalau kompetitor itu aksinya mudah diantisipasi karena kelihatan dan kita pasti bisa cepat meresponnya tetapi kalau situasi akan menjadi lebih sulit misalnya cuaca (produk yg kena pengaruh musim), SDM yang tidak mendukung, kondisi ekonomi yang menurun dsb.

Tapi nanti dulu...kita musti bertanya dalam diri kita benarkah situasi pasar berubah, pasar telah jenuh dengan produk kita …? apa itu bukan fatamorgana/alasan yang disampaikan salesman/salesrep/medrep/sales eksekutif yang menjadi laporan supervisornya ke Managernya…?.
Dan kalau sang Manager percaya begitu saja maka kita akan melihat panggung pertunjukan di gedung pertunjukkan yang sudah mulai dimatikan lampunya, sudah dicopot layarnya dan esok hari bubar.

Maukah kita mengikuti drama kehidupan tersebut menimpa perusahaan tempat kita, dimana menggantungkan penghasilan untuk anak istri keluarga kita …..? (ini bentuk loyalitas kepada pekerjaan).
Tentu tidak……untuk itu Sang Manager harus pandai menuntun pimpinan/supervisorsales/medrep/salesrep/saleseksekutif untuk melihat potensi dan kesempatan pasar .

caranya bagaimana…..?

Pertama Agar tidak di berikan Fatamorgana yang negatif maka sang Manager Penjualan harus tahu apa itu pasar,dimana saja potensinya,dimana wilayahnya,kesempatan apa yang harus dilakukan disana,bila perlu sampai detail detailnya.untuk itu Manager harus Turba (turun ke lapangan)Pengetahuan ini selayaknya di teruskan ke pada para leader/supervisornya.

Kedua Penguasaan terhadap terhadap data base,ini wajib hukumnya karena bagaimana jadinya seorang Manager tidak mempunyai data base Customer maka dia akan diberikan data yang salah dari para anak buahnya…..ujung ujungnya salah dalam mengambil keputusan/tindakan.
Data base ini harus valid,up to date,dan tentunya semua itu sudah tersedia dimasing-masing cabang baik manual ataupun komputer saya sarankan untuk bisa dipindah atau dibuat di Office spreadsheet yang umum umum saja bisa Excel,Open Office spreadsheet dan sebagainya yang memudahkan pengolahan data, data base ini di teruskan ke para supervisor/ Leadernya.

Ketiga Mampu mengartikulasikan gagasan,ide,program,motivasi,pelatihan kepada para anak buahnya.
Banyak sekali Manager yang brilian/pandai namun karena tidak mampu menyampaikan ke anak buahnya hasilnya adalah mubadzir alias omong kosong.
Sampaikan dengan jelas ide anda tersebut ke Anak buah anda (Para Leader) untuk segera mengambil tindakan, kita segera akan tahu berapa estimasi sales yang jelas terukur dan dapat di pertanggungjawabkan.

Lalu bagaimana Kita memulainya….?

Berikut langkah langkah membuat Breakdown target atau estimasi target.

1.Kumpulkan Anak buah Kita di ruang meeting dan berikan mereka data base Customer :

a) Data langganan
b) Track Record Penjualan
c) Data Outlet Peserta Program
( semua data bisa dalam bentuk TSA (time series analisis)

2.Berikan mereka format estimasi penjualan yang isinya meliputi :

a) Estimasi Omset untuk Top Ten outlet/Pareto Outlet (estimasi ini by outlet tidak boleh global)

b) Estimasi Omset untuk outlet yang ikut program (estimasi ini by outlet tidak boleh global )

c) Estimasi Others outlet ( estimasi ini by outlet tidak boleh global).

3.Salesman mengisi estimasi penjualan per kelompok Outlet sesuai format yang telah Anda bagi,katakan kepada mereka berapa angka proporsional untuk outlet A misalnya,beri pengertian jangan asal menulis namun sesuaikan dengan kemampuan outlet(dengan dibantu TSA dan kondisi lapangan Salesman disuruh mengisi).

4.Dengan data di tangan anda (Track record Penjualan outlet) ajaklah mereka diskusi tidak usah terlalu tegang santai aja supaya mereka tidak stress. Tanyakan ke salesman kenapa Outlet A hanya sekian unit,kenapa kok sedikit,kenapa kok banyak,apa yang bisa kita bantu untuk si salesman agar omsetnya di outlet itu bisa optimal terus kita periksa/di pilah-pilah per outlet. Lamakah kita memeriksa ini …? kalau kita sendiri yang memeriksa ya pasti lama ,untuk itu peran leader/supervisor di fungsikan dengan baik.

Hasilnya …..Anda nanti pasti akan kaget (walaupun ini hanya sekedar estimasi) tidak seperti yang mereka katakan kepada anda, karena pasti jauh lebih tinggi dari perkiraan mereka dan terukur untuk itu jangan buang buang waktu lakukan sekarang juga, dan yang penting data tersebut supervisor atau leader disuruh mengikuti hariannya, dan dibreifingkan tiap pagi, seminggu sekali kepala cabang atau menager adakan meeting dengan leader atau supervisornya untuk evaluasi mingguan, sehinga hasil pencapaian bisa dikuti setiap minggu dan segera difollow up outlet outlet mana yang belum sesuai pengambilannya dan apa masalahnya. Silahkan dikerjakan, dengan panduan yang mudah ini saya yakin komitmen pencapaian target tidak akan meleset jauh. Take action and GO...GO

Baca Selengkapnya...

SUPERVISOR YANG SMART


Dalam pekerjaan sehari hari para supervisor sering mengeluh : nggak enak jadi supervisor karena sering diperlakukan seperti ‘bemper' atau tameng . Pada saat ditanya apa maksudnya? Mereka akan menjawab ; Maksud saya, dulu sewaktu jadi staf biasa, saya hanya bertanggung jawab terhadap hasil kerja saya. Bos/atasan Saya hanya bisa mengomentari apa yang saya lakukan atau hasilkan. Sekarang, kalau anak buah saya melakukan kesalahan, saya kena teguran. Ibarat terjadi tabrakan di depan, bempernya/tamengnya yang penyok. Sebaliknya, kalau bawahan nuntut ini itu dan belum atau tidak dipenuhi, mereka bilang saya tidak peduli (care) pada bawahan. Tabrakan dari belakang, lagi-lagi bempernya/tamengnya penyok. Padahal, yang selalu menikmati fasilitas, ya manajer, alias dia aman di dalam. Bawahan juga aman karena terlindungi oleh saya dari kemarahan manajer/atasan .

Betulkah nasib supervisor seperti bemper/tameng yang maju kena - mundur kena? Ya, benar, jika mereka tidak tahu tugasnya dengan pasti, tidak tahu karakteristik supervisor ideal, dan buta tentang kemampuan yang disyaratkan.

Pertama, apa sih tugas supervisor? Ada Tridarma Supervisor:

1. Mengelola Diri Sendiri,
2. Mengelola Pekerjaan, dan
3. Mengelola Bawahan.

Supervisor harus seorang yang mampu mengelola dirinya. Mengelola emosi, cara berpikir, tutur kata, dan tindak tanduknya harus benar. Dia harus meningkatkan skill, kowledge, dan attitudenya secara konsisten dan berkesinambungan.
Supervisor juga harus mampu mengelola pekerjaannya. Dia harus memiliki cara cara baru, berinovasi dan kreatif untuk melakukan pekerjaannya dengan efektif dan efisien. Hasil karyanya haruslah meningkat, baik kualitas maupun kuantitasnya.
Supervisor juga harus mampu mengelola bawahannya, merekrut anggota terbaiknya, menilai hasil kerja mereka, mengawasi, mengarahkan, memotivasi, membimbing, dan memberdayakan bawahan.

Kedua, Supervisor harus mengetahui 4 K dari karakteristik supervisor ideal.
K- Karakter, Supervisor haruslah seorang yang jujur, artinya mengakui semua perbuatannya: benar atau salah. Supervisor juga haruslah berintegritas, artinya melaksanakan apa yang diucapkannya, menjadi teladan, walk the talk - tidak 'asbun'.

K- Koperatif, Supervisor harus bisa bekerja sama dengan bawahan, klien, supplier, sesama supervisor, dan atau manajernya. Dia tidak dapat bekerja soliter lagi.

K- Kompeten, Supervisor haruslah orang yang kompeten di bidangnya. Bersyukurlah bila Anda memulai dari bawah, karena mungkin saja Anda dipromosikan karena Anda dinilai kompeten di bidang tersebut. Jika Anda fresh graduate dan mendapat rejeki nomplok sebagai supervisor, cobalah Anda mendalami bidang yang Anda geluti. Jangan malu untuk bertanya pada bawahan Anda. Lebih mudah bagi Anda untuk memberikan pengarahan, misalnya, jika Anda tahu persis apa yang terjadi di lapangan.

K- Komunikatif. Karena anda berhubungan dengan manusia, bukan robot atau mesin, Anda harus berbicara dalam 'bahasa manusia'. Jadilah pendengar yang baik, berikan respon yang tepat - bukan menggurui - bukan menasehati apalagi mengecam. Latihlah diri Anda untuk mengucapkan artikulasi dengan jelas, bangunlah kepercayaan diri untuk berani berbicara di depan umum. Latihan presentasi, memberikan briefing, melakukan coaching, memberikan feedback, membantu problem solving, memimpin meeting, meningkatkan negotiating skills, melakukan komunikasi telpon, surat menyurat, menulis laporan, membuat pengumuman, membuat grafik, dll sesuai dengan bidang pekerjaan Anda.

Terakhir, Supervisor harus mengetahui tiga kemampuan yang harus dimiliki.
Kemampuan pertama adalah technical skills. Seperti diutarakan di depan; seorang Sales Supervisor harus bisa melakukan penjualan, misalnya. Penting bagi supervisor untuk melakukan joint visit dengan salesman (baru maupun lama) untuk lebih mengetahui kondisi pasar maupun kemampuan bawahan. Seorang Supervisor Bengkel Mobil, misalnya, harus tahu cara membetulkan mesin yang benar sehingga dia dapat menegur bawahan yang keliru mengencangkan baut, misalnya. Dia dapat menilai montir yang bekerja baik dan yang asal-asalan sehingga performance appraisal yang dilakukannya dapat akurat. Di tingkat supervisor kemampuan teknis menjadi sangat dominan dibanding level manajerial di atasnya. Mengapa? Karena dialah tempat bertanya bagi staf, di kantor, di pabrik, maupun di lapangan. Dia menjadi guru bagi bawahannya.

Kemampuan kedua adalah interpersonal skills. Lebih dari 8 jam waktu seorang supervisor dikelilingi oleh manusia. Sekalipun dia bekerja diindustri manufaktur yang fully automatic dikerjakan oleh mesin atau robot, tetap saja ada operatornya. Supervisor berinteraksi dengan manusia yang memiliki rasio dan emosi. Mereka membutuhkan pujian, sapaan, senyum persahabatan, didengarkan keluhannya, dibantu persoalannya, ditegur jika melakukan kekeliruan, diajari, diacungi jempol, disalam dengan hangat, dll. Anda menjadi sahabat bagi mereka yang menjadi konstituen Anda. Sampai level puncak pun interpersonal skills ini tetap diperlukan.

Kemampuan terakhir adalah conceptual thinking. Meski tugas Anda sebagian besar adalah mengerjakan kebijakan perusahaan, tetapi karena Anda sudah menjadi bagian manajemen di lini depan, maka Anda perlu meningkatkan kemampuan berpikir konsep. Anda perlu belajar untuk memahami visi-misi perusahaan dan menterjemahkannya menjadi SOP yang mudah dipahami bawahan karena sederhana dan sistematis. Anda juga perlu memperjuangkan usulan dari bawah dan menyisipkannya kedalam proposal yang dapat mendukung tercapainya visi-misi perusahaan. Karena itu Anda perlu belajar grafik, diagram, table dsb seperti bahasa yang dipahami oleh para ‘dewa' di puncak kekuasaan. Tanpa itu semua, proposal maupun report Anda hanya akan dipandang sebagai surat cinta anak monyet (?)(tidak ada artinya)

Kalau demikian, apakah Anda masih merasa sebagai bemper/tameng? Bukankah sekarang mestinya anda menganggap sebagai bagian tengah dari burger yang diapit oleh roti di atas dan di bawahnya? Iya dong, Anda justru paling berharga. Sepotong burger tentu tidak nikmat jika tidak ada daging, selada, mayonaise dan bumbu lain di tengahnya. Tapi jangan juga besar kepala, seolah olah andalah yang paling penting, jika tidak ada anda operasional akan berhenti, semua adalah team ibarat burger tadi kalau semua lengkap akan enak dinikmati daripada hanya separo separo tidak ada rasanya. Ayolah rekan rekan supervisor jadilah burger bukan bemper !!!! teruslah asah kapak anda sukses selalu GO..GO!

Baca Selengkapnya...